Pencinta Buku

Buku adalah Guru Paling Sabar

Penguasa Bayangan Amerika

Ditulis oleh pencintabuku di/pada Desember 8, 2007

Oleh: Stefanus Akim

Amerika Serikat sebagai negara besar memiliki ambisi-ambisi besar yang ingin diraihnya. Tujuan itu juga ingin dicapai melalui kebijakan luar negeri. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat selama dipimpin George W. Bush tidak dapat dilepaskan dari pengaruh neokonservatif (neokons) – paham konservatif baru.

Pengaruh kelompok ini sangat kuat, diantaranya dengan mempengaruhi untuk menginvansi Afghanistan dan Irak. Doktrin Bush seperti dikatakan Joshua Muravchik, telah menjadi hard core kebijakan luar negeri AS.

Konservatisme adalah kepercayaan terhadap nilai-nilai konvensional yang telah mengakar secara tradisional dalam kehidupan masyarakat AS. Nilai yang mengakar sangat kuat itu diantaranya kebebasan.

Buku ini mengupas total neokons, mulai dari sejarah, perkembangan maju mundurnya, hingga pengaruh kebijakan saat presiden dipegang oleh George W. Bush, saat ini.

Apa itu neokons? Istilah neokons pertama kali diperkenalkan oleh Michael Harrington pada 1970-an. Harrington adalah seorang ilmuwan sosialis yang bekerja sebagai editor majalah Dissent. Istilah itu ia gunakan untuk menunjukkan suatu gerakan eksodus sekelompok individu yang semula berpaham liberal kemudian beralih menuju konservatif.

Kemunculannya sekitar tahun 1960-an, saat berlangsungnya pemilihan presiden AS, pada 3 November 1964. Maju sebagai presiden dari Partai Demokrat adalah pasangan Lyndon B. Johnson, sementara dari Partai Republik adalah Barry Goldwater.

Selama masa kampanye Johnson melontarkan janji-janji yang dasarnya tiga kata, meliputi prosperity, unity, peace. Berdasarkan ketiga hal itu ia menjual hak-hak sipil sebagai jualan kampanye. Sedangkan lawannya Goldwater, mengusung tema kekuatan nuklir dan peranannya dalam kebijakan luar negeri AS.

Saat masa kampanye dan pemilu berlangsung, neokons belum menampakkan kehadirannya. Namun, cikal bakal para pelopornya telah menunjukkan eksistensinya di belakang layar kampanye Johnson dan Partai Demokrat. Hanya saja, mereka belum menegaskan diri sebagai sosok neokons sebab pandangan mereka masih lebih dekat ke arah liberal.

Penulis juga mengutip pernyataan Samuel Francis yang menilai motivasi politik neokons digerakkan tiga hal. Terdiri dari ancaman terhadap intregritas universitas dan kehidupan intelektual AS yang dicerminkan oleh militansi generasi new left dan barbaisme counterculture pada akhir 1960-an. Ancaman terhadap pencapaian profesional dan akademik orang Yahudi yang direpresentasikan oleh kuota dan program aksi great society. Selanjutnya perkembangan serius anti Semit dan aliansi Soviet dengan teroris dan rezim Arab anti-Barat dan anti Israel.

Selain masuk di jajaran pemerintahan dan menguasai tampuk pimpinan dan pengambil kebijakan, mereka yang berpaham neokons juga mengelola media masa. Cara ini salah satu untuk membangun opini publik. Salah satu media massa yang paling diandalkan (tahun 1970-an) oleh kelompok ini adalah commentary.
Figur-figur neokons juga bekerja di lembaga-lembaga riset, mengajar di universitas ternama, think tank ternama dan sektor-sektor lainnya. Oleh sebab itulah neokons sangat dikenal oleh publik AS sebagai sebuah gerakan intelektual.

Pengarang mencatat, perkembangan kelompok ini banyak dipengaruhi oleh perjalanan intelektual Irving Kristol. Pada mudanya saat masih kuliah di City Collage ia getol mempelajari karya-karya Leon Trotsky, Leo strauss, Lionel Trilling, Plato, Vladimir Lenin, King James Bible, Ronald Niebuhr dan Rosa Luxemburg.

Kini, neokons sudah bergerak jauh yaitu dengan berpikir secara global. Tujuannya bagaimana agar nilai-nilai itu juga dianut masyarakat internasional.

Selama berganti presiden, neokons juga mengalami pasang-surut. Kadang tokohnya dipakai dan dekat dengan kekuasaan, namun terkadang juga jauh dari lingkaran kekuasaan dan pengambil kebijakan. Selama presiden AS dijabat Ronald Reagen tahun 1980-an, disebut-sebut sebagai awal kejayaan neokons. Namun pada masa George H.W. Bush – bush Senior suara mereka cenderung diabaikan dalam proses pengambilan keputusan. Kondisi mereka semakin terpuruk saat Bill Clinton menjadi presiden. Pada saat itu kelompok ini tersingkir. Sebagai presiden dari Partai Demokrat yang cenderung berpaham liberal internasionalism, Clinton lebih banyak fokus pada persoalan ekonomi daripada militer dan power politics. Namun sebaliknya, saat George W. Bush berkuasa, neokons menunjukan tanda-tanda kebangkitan. Beberapa tokoh penting neokons menduduki jabatan dan pengambil kebijakan.

Disajikan juga 14 tokoh kunci yang memiliki peran besar dalam kesuksesan raihan cita-cita neokons, terutama pada masa Bush Junior.

Pengarang buku ini, A.Safril Mubah adalah seorang dosen jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Buku ini adalah kelanjutan skripsi penulis alumni Universitas Airlangga, jurusan Hubungan Internasional yang kemudian dilakukan penambahan disana-sini hingga menjadi sebuah buku yang enak untuk dibaca dan bernas. Sangat wajar jika menggunakan pisau analisis, karena dia adalah seorang akademisi.

Selain aktif menjadi tenaga pengajar di UMM, penulis seperti yang dituliskannya pada bagian akhir buku ini aktif menulis artikel di berbagai media massa. Ia juga berkiprah sebagai Direktur Pusat Riset dan Kajian (PrisKa) Yayasan Roushor Fikr Jombang. Tak heran sebab sejak remaja ia sudah terbiasa berorganisasi.□

Data Buku:
Judul : Menguak Neokons;
Menyingkap Agenda Terselubung Amerika Dalam Memerangi Terorisme
Pengarang : A.Safril Mubah
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetalan : Pertama, Oktober 2007
Halaman : xxii + 270

*Edisi Cetak Borneo Tribune, 9 Desember 2007

Satu Tanggapan ke “Penguasa Bayangan Amerika”

  1. [...] Halo dunia! Penguasa Bayangan Amerika [...]

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>