Pencinta Buku

Buku adalah Guru Paling Sabar

Sawit yang Merusak Penghidupan Masyarakat Dayak Jalai

Ditulis oleh pencintabuku di/pada November 11, 2007

Oleh: Stefanus Akim

Konsep pasar bebas yang dikembangkan ’Mafia Berkeley’ imbasnya terasa hingga ke pelosok kampung. Pasar bebas atau kapitalisme diterjemahkan oleh pengambil kebijakan dan pengusaha di antaranya dengan membuka lahan sawit seluas-luasnya. Hutan yang dulu ’supermarket’ bagi warga sekitar kini ’gulung tikar’. Sejauh mata memandang hanya hamparan pohon sawit yang berjejer rapi.

Sejahtera kah masyarakat dengan konsep itu? Secara materi atau uang cash jawabannya mungkin ya. Namun banyak sektor lain yang lebih berharga justru dihancurkan, di antaranya lingkungan bahkan situs-situs budaya nenek moyang. Pohon-pohon besar dan kecil yang selama ini menjadi penahan air dan penghasil oksigen untuk kebutuhan manusia dan hewan dibabat habis. Pohon-pohon tembawang (tanaman kayu keras) juga bertumbangan dihantam chainsaw, digusur traktor.

Saat itu, para Mafia Berkeley, ekonom yang membangun struktur ekonomi rezim Soeharto sejak 1990-an mungkin tak pernah memikirkan akibatnya. Lulusan Universitas Berkeley, Amerika Serikat yang terdiri dari Widjojo Nititsastro, M Sadli, Subroto JB Sumarlin, Suhadi Mangkusuwondo, Adrianus Mooy, Ali Wardhana, Suhadi Mangkusuwondo, Emil Salim, Radius Prawiro dan Saleh Afif, yakin jika ekonomi kapitalisme lah jalan keluarnya.

Budaya dan pranata sosial juga turut berubah secara drastis. Jika sebelumnya masyarakat terbiasa dengan mengambil dari hutan atau menoreh getah, kini harus bekerja di perkebunan sawit. Jika sebelumnya masyarakat tuan di tanah sendiri, kini menjadi kuli di tanah sendiri.

Tanah masyarakat dipatok dan digarap oleh pemilik Hak Guna Usaha (HGU). Pembagian hasil perkebunan pun terasa tak adil, masyarakat yang note bane pemilik lahan hanya mendapat 2,5 Ha dari 10 Ha yang dimiliki, sisanya tentu saja menjadi milik perkebunan sawit.

Akibatnya, konflik antara perusahaan dan masyarakat adat pun terjadi. Misalnya sejak PT Harapan Sawit Lestari (HSL) masuk di kecamatan Manismata khususnya di desa Bariem telah menimbulkan permasalahan (konflik) di dalam masyarakat adat. Konflik itu baik horizontal, antara masyarakat yang mendukung dan yang menolak serta konflik vertikal dengan aparat pemerintah.

Walhi Kalbar mencatat pernah terjadi konflik antara masyarakat adat dengan PT HSL. Tahun 1993-1994 terjadi konflik karena pencemaran air oleh perkebunan sawit. Tahun 2003 juga terjadi banjir yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat adat serta dampak negatif lainnya. Sedangkan tahun 2.000 terjadi intimidasi dan penyitaan senjata api milik masyarakat adat.

Mungkin, karena hasil penelitian, buku ini juga menyajikan banyak sekali data-data perbandingan antara keuntungan secara ekonomi tanaman sawit dan tanaman lain yang akrab dengan masyarakat adat. Seperti padi, kelapa, buah-buahan, karet dan sebagainya.

Buku yang diterbitkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Eksekutif Daerah Kalimantan Barat ini, mengupas habis keuntungan dan kerugian perkebunan sawit bagi masyarakat Dayak Jalai. Observasi dan penelitian dilakukan di Kecamatan Manismata Kabupaten Bengkayang (harusnya Kabupaten Ketapang) yang merupakan ’habitat’ masyarakat Dayak Jalai. Kecamatan tersebut meliputi 5 kampung; Beriam, Bagan Kusik, Kelai, Asam Besar, Sungai Bukuh Kiri.

Yohanes RJ – kala itu direktur Walhi Kalbar – bersama teman-temannya, diantaranya: Nur Hidayat, Niko, Shaban Stiawan, Thomas Dalimen serta dibantu masyarakat Nursita, Sahroi dan Ayan melakukan penelitian langsung di lapangan. Penelitian – dan itu juga yang ditulis di buku ini – menitikberatkan kepada ekonomi dan ekologi sumber daya alam yang hilang akibat alih fungsi menjadi perkebunan sawit.

Buku ini menggambarkan kepada kita pengurasan sumber-sumber penghidupan masyarakat adat Dayak Jalai-Ketapang oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit, terutama oleh PT Harapan Sawit Lestari. Pola yang diterapkan oleh perusahaan telah menjebak masyarakat ke dalam hutang jangka panjang. Karena dengan pola kemitraan Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) masyarakat yang ingin memperoleh lahannya harus masuk ke dalam struktur koperasi. Setiap masyarakat yang memiliki kebun sawit terus menanggung beban kredit bank dan menjual tandan buah segar (TDS) sawit kepada perusahaan. Kondisi ini menempatkan masyarakat sebagai pekerja atau kuli karena tidak memiliki otoritas untuk menentukan harga dan mengontrol hasil panen sawit. Termasuklah menurunnya kualitas ekologi dan sumber daya alam serta mengubah masyarakat menjadi konsumtif. Ironisnya, perilaku konsumtif ini mendorong masyarakat berutang dan menjual tanah milik mereka yang selama ini menjadi sumber penghasilan.

Di sisi lain, masyarakat mulai sadar atas pemiskinan sistematis itu. Mereka mulai melakukan perjuangan untuk mendapatkan kembali hak-hak atas tanah atau lahan mereka. Satu bukti yang meruntuhkan stigma para ’pejuang’ di tempat lain selama ini. Mereka menilai jika kultur perlawanan di Borneo Barat lemah. Ini kah awal kebangkitan perlawanan itu? Mungkin saja. Dan, sawit lah pemicunya.□

Data Buku:
Judul Buku : Air Mata Manismata
Tim peneliti : Yohanes RJ, dkk
Penerbit : Walhi Kalbar
Cetakan pertama : April 2006
Jumlah halaman : vi + 108;
Ukuran buku : 14,8 x 21 cm

*Edisi CEtak Borneo Tribune 11 November 2007

15 Tanggapan ke “Sawit yang Merusak Penghidupan Masyarakat Dayak Jalai”

  1. Hendi Chandra berkata

    Kim tulisanmu tentang sawit sangat bagus. Bravo kawan…

  2. dani_petebang berkata

    sawit memang merusak lingkungan!!! janganlah sekali-sekali menerima perusahaan sawit masuk…
    Salam kenal buat penulis!

  3. bambang berkata

    koreksi (parangraf 9): kecamatan manis mata -kabupaten ketapang, bukan bengkayang.

  4. pencintabuku berkata

    Bung Bambang, terima kasih atas kritiknya. Sekali lagi terima kasih…Salam

  5. [...] tidak memiliki keahlian yang mumpuni. Sehingga, dengan sangat terpaksa, kebanyakan hanya jadi kuli-kuli rendahan, sesuruhan bos-bos besar yang memegang [...]

  6. Dawah Toto Sriyono berkata

    sangat amat benar, banyak warga tadinya pemilik tanah menjadi kuli di tanah mereka sendiri. Kepemilikan tanah dengan kehadiran kebun sawit menjadi mudah berubah atas dasar jual beli. Padahal sebelumnya, pemilik tanah adalah milik warga sekampung. Ada apa ini semua ……. apakah itu memang keadilan, … atau penjajahan modus baru. Lihat statement pdip di dpr (baca kompas maret) fraksi oposisi pdip menolak keras kehadiran besar-besaran investasi kebun sait di luar jawa.
    Dengan demikian, warga dayak jalai akan menjadi korban …. korban.

  7. Dawah Toto Sriyono berkata

    saya ini transmigran dari luar kalimantan, fakta yang saya hadapi di kampung yang saban hari beradaptasi dengan warga di pedalaman kalbar, melihat langsung terjadinya rupa-rupa penipuan yang dilakukan oleh para pengumbar janji manis dari para humas perusahaan sawit di manismata. Jika benar yang mereka katakan, mengapa terjadi gejolak demo hampir setiap tiga bulan di pt. HSL. Mengapa

  8. hery dayak berkata

    coba saudara pikir..apakah kedepan anak cucu kita akan bisa mendapatkan kehidupan yg lbh baik hanya dgn hutan yg hijau..walau tanpa perlebunan sawit yang dibuka(itupun tdk sampai berjuta-juta hektare) tetap hutan kan terkutrangi dgn tambahan jmlh penduduk dan konsumsi kayu yg meningkat..yg penting harus ada kontrol dan usaha yg terpadu untuk penghijauan hutan di areal kosong dan sekitar daerah yang dijadiokan perkebunan sawit.
    dgn sawit..diharapkan nantinya mapu memberikan dampak ekonomi lgsng kpd petani, anak-anak dayak itu sendiri.
    atau anda punya solusi untuk perbaikan ekonomi? sudah beruntung investor mau ke tempat kita..banyak daerah lain yg berebut..bersyukurlah..jgn mengkritik dan hanya melihat sisi negatifnya.
    lihat dulu perkembangan sawit ke depan..BARU ANDA BPLEH BICARA..tentunya dgn fakta…BUKAN DITUNGGANGI OLEH KEPENTINGAN YANG SEMPIT.

  9. Fixi@yahoo.com

  10. Banyak kepentingan,bayak polemik yang terjadi,itulah yg terjadi di negara kita,pola pikir dan pandangan kedepan yg kita utamakan,bukan bearti kita membawa bangsa kita ke suatu hal yg membuat ke jaman waktu kita blm mengenal dunia politik ,unsur 2 yg di tinggalkan belanda,mari kita bersama membangun negara ri dlm keadaan krisis ekonomi

  11. Pola pikir ,kecerdasan,juga yg menyangkut sos,esos,politik many politik,hukum ketegasan hukum,bawalah bangsa ke depan,sukseskan pembangunan

  12. Bebagai bentuk aspek kehidupan ,intinya dari semua itu kemakmuran kesejahteraan,begitu juga yg terjadi di seluruh dunia yg mana prekonomian ny mengalami krisis global,kt sbgai warga ri yg baik harus bisa membawa bangsa ke modernisasi,baik dari pakar ekonomi,politik.

  13. Marterinus,SH berkata

    Loreksi : Ada penulisan nama daerah dalam tulisan Bapak “Bariem” nama sebenarnya adalah Beriam, kl tdk keberatan silahkan liat blog berikut ini: http://beriam.blogspot.com (Blog tsb ditulis langsung oleh putra daerah asal Beriam) terima kasih.

  14. Marterinus,SH berkata

    Koreksi : Ada penulisan nama daerah dalam tulisan Bapak “Bariem” nama sebenarnya adalah Beriam, kl tdk keberatan silahkan liat blog berikut ini: http://beriam.blogspot.com (Blog tsb ditulis langsung oleh putra daerah asal Beriam) terima kasih.

  15. AAl berkata

    Kondisi sekarang sangat menguntungkan, baik instansi pemerintah, swasta maupun NGO yang bergerak dibidang lingkungan semakin lantang bersuara alias smakin besar n panjang ceka’knya namun kenyataannya kok hutan rusaknya makin tambah parah ya, pa nya yang salah ya? kami sebagai masyarakat awam brharap kongkritnya mas. Kerja kerja ayo kita kerja!!!!……….

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>